Beliau memang hanya sesekali keluar rumah. Istilahnya puasa politik.
Keasyikannya sekarang adalah meresapi makna kehidupan melalui cucu-cucunya yang sedang lucu-lucunya.
Orang bilang, sayang kakek kepada cucu melebihi anak sendiri. Tak terkecuali “Bang Midji”.
***

Kekinian berjumpa Bang Midji sebagai insan pers tak afdhol jika tak bertanya soal dua tersangka kasus dana hibah Mujahidin. Hibah 2020-2022 yang diberikannya selaku gubernur.
Tak ayal lagi, 1 jam beliau urut dari awal sampai akhir. Sampai kepada dana-dana hibah yang jumlahnya ratusan, bahkan ribuan, diminta periksa semua, apakah ada aliran dana masuk ke koceknya. “Jangan hanya hibah Mujahidin, juga Matakin, Walubi, GKE, Katedral. Semua agama dan ormas saya berikan hibah.”
Saya menyimak dengan seksama. Dan berjanji akan membuat liputan konfrehensif agar publik tahu benar-benar tahu, bukan katanya-katanya.
Saya akan mulai dari nol. Historis. Dari A to Z. Bersambung tentunya.
Selain via berita atau artikel juga podcast. Tentu dengan desain infografis agar mudah dicerna dan dibandingkan. Misalnya Gedung SMA dapat hibah 22M hasilnya sebesar itu. 3 tingkat. Plus tingkat keempat sarana olahraga. Bandingkan dengan Gedung Kejaksaan Negeri. Hasil hibah Pemkot senilai 22M.
Sebagai jurnalis saya kenal secara kelembagaan di Mesjid Raya Mujahidin. Saya alumni SMP Mujahidin (1986-1989). Saya ikuti metamorfosis halaman kosong 1978 ketika diresmikan Presiden Soeharto.
Saya tahu hanya ada 1 Yayasan. Yakni Yayasan Mujahidin. Tidak pernah ada dua yayasan, yakni Yayasan Perguruan atau Pendidikan Mujahidin. Oleh karena itu data rilis salah besar. Media mengaplikasi rilis juga salah akbar. Lebih besar bin gede laiknya gempa bumi disusul tsunami. Tak ada cross check. Check and recheck. Balancing report.
