Perlu berhati-hati dengan jiwa tenang ketika menyikapi masalah, apa pokok masalahnya? apa latar belakang munculnya masalah itu? Bagaimana kronologisnya sehingga masalah itu muncul? Ketika kita menyikapi dengan cara apa? Apakah cara menyikapinya mendatangkan maslahah? Berdampak kepada kebaikan? Atau mendatangkan masalah baru? Atau cara sikap kita berdampak buruk kepada kita sendiri?
2. Nabi SAW menegur Aisyah istrinya karena sikapnya langsung emosi dengan kalimat kasar ‘semoga kamu binasa, dilaknat Allah dan dimurkai’ . Ini sikap berlebih-lebihan. Luapan emosi yang tidak terkendali menyebabkan dengan gampang keluar kata-kata kasar, kotor dan keji yang justru bertentangan dengan ajaran dan adab etika Islam.
Jangan gampang dan terbiasa mengucapkan kalimat kamu dilaknat Allah, kamu dimurkai Allah, kamu dikutuk, kamu biadab, anjing, babi dan semacamnya. Apalagi diungkapkan di ruang publik, sedang ceramah, ceramah agama lagi, di media sosial.
Kata-kata kasar dan kotor adalah cerminan kepribadian seseorang.
Makanya salah satu kriteria pemimpin dan tokoh yang baik adalah yang bisa menahan emosi, menyikapi masalah dengan tenang bijak dan arif.
Betapa banyak orang, pemimpin dan tokoh langsung rontok wibawanya hanya karena kata-kata kasar dan kotor, tidak bisa menjaga mulut.
Betapa banyak orang biasa dan Pemimpin atau tokoh disegani dan dihormati karena wibawa sopan santun tatakrama etika adabnya yang baik termasuk tutur katanya yang menyenangkan.
3. Nabi SAW menegur Aisyah sekaligus mengajari: Hendaklah kamu bersikap lemah lembut, jangan kasar dan keras, hindari kata-kata yang keji.
Teguran Nabi SAW ini kepada Aisyah ketika Aisyah mengeluarkan kata-kata yang kasar kepada orang-orang Yahudi yang Sudah jelas dan nyata di depan matanya mereka menghina Nabi Muhammad SAW.
