Opini

Pasinaon: sabar, nrima, iklas dan jujur

Pasinaon: sabar, nrima, iklas dan jujur

Olehy: Leo Sutrisno

Ciri khas sikap ‘sepi ing pamrih’ yang dikembangkan orang Jawa merupakan kombinasi antara kematangan hati yang tenang, kebebasan dari kekawatiran tentang diri sendiri dan kerelaan untuk membatasi diri pada peran dalam dunia yang telah ditetapkan. Pada titik ini, yang bersangkutan dianggap telah mencapai kematangan moral (Jawa). Beberapa sikap khas yang menandai kematangan moralnya, seseorang akan bersikap: ‘sabar’, ‘nrimâ’, ‘iklas’ dan ‘jujur’.

Orang yang ‘sabar’ memunyai ‘nafas panjang’ dalam kesadaran bahwa pada waktunya, nasib yang baik pun akan tiba. Seorang pemimpin yang baik mempunyai sikap ‘sabar’. Ia akan melangkah dengan hati-hati, seperti jika sedang melangkah di atas sekeping papan yang belum diketahi kekuatannya.

Sikap kedua yang dianggap menunjukkan kematangan moral seseorang adalah ‘nrimê’. ‘Nrima’ berarti menerima apa yang mendatanginya tanpa protes dan perlawanan. Sikap ‘nrima’ ini mendapat banyak kritikan karena disalah-fahami sebagai kesediaan untuk menerima segala sesuatu secara apatis. Bukan, nrima tidak berkonotasi negatif seperti apatis itu. Sebaliknya, nrima bernilai positif yaitu sikap seseorang yang dalam sutuasi yang mengecewakan pun ia bereaksi rasional, tidak ambruk dan juga tidak menentang secara percuma.