Nrima menuntut kekuatan untuk menerima sesuatu yang tidak dapat dielakkan tanpa membiarkan diri dihancurkan olehnya. Sikap nrima memberi daya tahan untuk menanggung nasib yang buruk. Bagi mereka yang memiliki sikap nrima, ‘mala petaka’ kehilangan ‘sengsara’nya. “Ia tetap bersukacita dalam penderitaan”.
Seseorang yang telah mencapai kematangan moral juga akan bersikap ‘iklas’. Seseorang besikap iklas berarti bersedia melepas individualitas sendiri dan mencocokkan dirinya ke dalam keselarasan agung alam semesta sebagaimana telah ditentukan.
Sikap lain yang senuansa dengan iklas dalah ‘rilâ’. Rila adalah kesanggupan untuk melepaskan. Misalnya: melepaskan miliknya, kemampuannya, hasil pekerjaannya, dsb apabila itulah yang menjadi tuntutan tanggung jawab atau nasib.
Sikap ke-4 yang menunjukkan seseorang mencapai kematangan moral adalah ‘jujur’. Orang jujur (têmên) dapat mengandalkan janjinya. Orang jujur juga akan bersikap ‘adil’.
Orang yang telah mencapai kematangan moral juga akan bersikap ‘sederhana’ (prasâjâ). Ia juga ‘rendah hati’ yaitu bersedia menganggap dirinya lebih rendah dari orang lain (andhap asor). Ia juga akan ‘têpâ selirâ’. Ia selalu sadar akan batas-batasnya dan akan situasi keseluruhan di mana ia berada.
