Apatah lagi ketika kata-kata kasar itu ditujukan kepada saudara-saudara kita sesama umat Islam?
Sikap yang buruk dan jahat orang lain kepada kita tidak harus dibalas dengan sikap yang sama apalagi berlebih. Tidak layak, kepribadian kita yang baik dan mulia ikut juga buruk dan jahat hanya karena sikap orang buruk dan jahat itu.
Begitu juga, tidak layak kita berbuat baik hanya karena orang itu berbuat baik.
Kita berbuat baik bukan karena orang lain berbuat baik atau berbuat buruk kepada kita.
Allah menciptakan kita agar kita menjadi penabur-penabur kebaikan di permukaan bumi.
Ada orang diampuni dosanya dan masuk surga karena ia pernah menyelamatkan hidup seekor anjing. Padahal anjing itu najis dan tidak pernah berbuat baik kepada dirinya. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
Ada juga orang masuk neraka karena ia pernah membiarkan seekor kucing mati kelaparan. (HR. Bukhari dari Ibnu Umar).
Sikap yang buruk dan jahat orang lain kepada kita tidak harus dibalas dengan buruk dan jahat pula, kecuali pada konteks tertentu dimana dengan cara itu orang yang bersangkutan bisa berubah dari keburukan dan kejahatannya, tapi tetap dengan cara yang beradab dan santun. Misalnya bersikap sombong kepada orang sombong tujuannya agar dia berhenti sombong.
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik sehingga kita bisa menjaga diri, hati, pikiran dan sikap dalam menyikapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan, bukan membuat dan memperbesar masalah.
Pontianak, 28 Oktober 2018
19 Safar 1440 H
