Mereka yang tidak takut ini memiliki narasi tersendiri tentang kematian ini. Kematian adalah takdir. Kematian kalau sudah tiba waktunya tetap terjadi. Soal jumlah, mereka menganggap bahwa setiap hari pun sebelum corona, banyak juga orang yang meninggal dunia. Malah mereka berburuk sangka bahwa kematian jumlah corona itu adalah angka-angkaan.
Ya, memang, hak setiap orang untuk mengeluarkan pendapat. Hak setiap orang untuk percaya dan tidak percaya. Namun, karena mereka berada di sekitar kita, di sekitar orang-orang lainnya, bagian dari penghuni ruang yang sama dengan ruang yang kita tempati, maka sikap mereka jelas sangat mengkhawatirkan kita. Sikap mereka menambah berat beban pemerintah dalam memerangi pandemi corona.

Semoga dengan melihat perkembangan penyebaran virus corona ini, melihat perkembangan cluster-cluster penularan, melihat bagaimana upaya petugas kesehatan, mereka-mereka yang keukeuh pada kekuatan diri menghadapi virus, tergerak hatinya.

Ini bukan soal berani tidak berani. Ini bukan soal akidah.

Sekarang ini, kita bicara soal kemanusiaan. Soal rasa orang kehilangan anggota keluarga. Soal orang yang bertungkus lumus mengurus orang yang sakit. Soal penyebaran penyakit yang tak nampak oleh mata.

Semakin banyak orang yang membangkang perintah pemerintah untuk menjaga jarak, mengkarantina diri, menghindari kerumunan, mengenakan masker, semakin luas peluang jangkitan. Semakin banyak yang terjangkit, semakin lama kita berkutat dalam suasana yang terbatas seperti ini.
Pasti, kita ingin hidup seperti semula. Hidup normal. Hidup tanpa sekatan. Hidup dengan tenang dan bebas. Inilah kemanusiaan kita. (*)