Opini

Filsafat Melayu, Filsafat Bangsa

Filsafat Melayu, Filsafat Bangsa

Pesan leluhur Melayu sudah jelas: Kukuh rumah karena sendi, rusak sendi rumah binasa. Kukuh bangsa karena budi, rusak budi bangsa binasa…

Sastra lisan di atas dituturkan turun temurun. Tahukah generasi muda? Mungkin tidak. Kearifan di atas hanya jadi kenangan, ingatan sosial kalangan tertentu saja. Generasi muda tak kenal lagi sastra lisan di atas, kalaupun kenal, pantun terjun yang hanya joke joke-an. Jauh dari penghayatan akal budi. Jauh dari penerapan akhlakul karimah.

Bukankah salary timpang akibat budi tak terasah?

Bukankah mulutmu harimaumu?

Bukankah kebut-kebutan melindas pengguna jalan raya? Seperti Barracuda itu…

Malam ini pemantun Mempawah menegasikan erosi moral itu. Mereka membuka memori kolektif sejarah. Membuka-buka buku lama. Salah satunya sejarah Mempawah. Buku pantun karya Elyas Suryani Soren.

Masygulnya, pemantun kita minim buku. Hanya 1. Itupun raib dari rak perpusda.

Kalau kita mau memperbaiki masa depan bangsa, keunggulan budi mesti dibangun kembali. Pantun turut memberikan sumbangsihnya. Untuk itu kami keliling… sosialisasi… menyerap kembali ingatan kolektif tokoh-tokoh yang masih berakar di grassroot.

Dengan sastra kita lembutkan kerasnya nafsu kekuasaan atas harta, tahta, wanita dan Toyota.

Silang sempurna
Kata berkait
Serumpun Berpantun

30-8-2025


Mau gabung dengan WAG Pantun Mendunia? klik >>> link berikut