WhatsApp Image 2020 07 02 at 01.52.57
Sultan Hamid dan istri Didi Van Delden bergelar Sultana Maharatu Mas Makhota Pontianak bersama tamu dan keluarga istana di ruang utama Kesultanan Qadriyah Pontianak di masa menjadi raja.

Pada akhir tahun 1930 ia menikah dengan pangeran muda Pangeran Syarif Hamid Alkadrie yang kemudian menjadi Sultan Pontianak ke VII. Dia melahirkan 2 anak. Pertama Sofia kakak Max (wafat mendahului ibunya), dan hanya tinggal seorang putra Max Yusuf Alkadrie yang masih hidup. (NB: saat naskah ini dinaikkan di teraju.id, Max Yusuf Alkadrie yang akrab disapa Max Nico telah pula wafat).

Setelah Jepang membunuh banyak bangsawan pada tahun 1944 di Kalimantan Barat, ia menjadi terkejut dan pada tahun 1945 pada tahun berikutnya Ia dilantik sebagai Ratu Pontianak, ketika suaminya terpilih sebagai Sultan Pontianak ke VII, pada 23-10-1945.

Dalam masa sulit setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia dan Belanda memberikan kemerdekaan penuh untuk Indonesia, Sultan mengirim keluarganya ke Belanda untuk alasan keamanan dan mereka tidak pernah kembali lagi ke Indonesia.

Selama masa yang sulit bagi suaminya (Sultan Hamid.II, dituduh makar pada 1950 dan setelah pembebasannya, kembali pada tahun 1960- Suaminya dikirim ke penjara untuk apa yang disebut pemberontakan terkenal dengan istilah Bali Conection), Didi selalu mendukung suaminya, dan tidak pernah lupa Pontianak. Banyak hal yang dia lakukan dengan bantuan dari investor Belanda. Hingga sampai waktunya, suaminya meninggal 30-3-1978 dan mereka selalu menyimpan perasaan rindu dan respek yang tinggi terhadap satu sama lain.