Kita mengenal Jokowi suka blusukan. Ketemu masyarakat secara langsung. Dalam pertemuan pertemuan itu banyak kali kita terhibur dengan jenakanya Jokowi. Hal ini terjadi terus sampai Gubernur DKI, bahkan Presiden RI ketika kunjungan kerja ke daerah-daerah. Kita bisa menikmati kuis-kuis “maut” Jokowi yang membuncahkan air mata tawa. Pembaca tentu masih ingat soal kuis berhadiah sepeda. Tentu masih ingat pertemuan Jokowi dengan santri-santri dengan kuis siapa saja Presiden Indonesia? Santri itu menjawab Bu Megawati…..sampai kepada Ahok dan gelegar tawa membahana badai. Pak Jokowi pun terpingkal-pingkal. Sama meledak tawa kita menyaksikan kuis ikan tongkol….
Sungguh momentum yang indah. Tapi itu Jokowi yang dulu. Bukan Jokowi yang sekarang. Jokowi yang sekarang jarang lagi blusukan. Jarang lagi buat kuis. Jarang lagi tertawa bersama rakyat.
Beliau didatangi massa mahasiswa dan buruh tidak mendekat dan merapat seperti saat jadi Walikota Solo dan Gubernur DKI. Beliau pilih terbang ke Kalteng untuk melihat food estate–padahal bisa saja dibatalkan, atau digantikan Menteri Pertanian–sementara Jokowi atas hati emasnya menjumpai massa. Massa tak akan menciderai Jokowi, sebab ini “anak” mau jumpa “bapaknya”. Mau dialog. Mau tanya jawab seperti biasanya. Jika Jokowi yang dulu. Saya yakin dia akan menemui massa. Tak akan ada korban berdarah-darah yang kini memenuhi tahanan sampai lebih dari 6.000 orang seluruh Indonesia. Sungguh saya dan juga kita semua kehilangan Pak De Jokowi. Sosok merakyat yang suka kasih kami sepeda.

