Home > Opini > Kalbar Kehilangan Koran Referensi yang Disegani
Edisi terakhir

Kalbar Kehilangan Koran Referensi yang Disegani

Oleh: Nur Iskandar

Sedih kata Bang Djun lewat “surat pamit-undur diri” dari hiruk pikuk media cetak bernama Rakyat Kalbar yang dulu bernama Harian Equator, tepat penghujung Desember ini. Saya alumni angkatan “assabiqunal awwalun” juga sedih, walau hanya 8 tahun terhitung sejak 1999 bergabung di media nan kritis dan berani tersebut.

Saya direkrut masuk setelah diketahui aktif sebagai aktivis pers kampus. Saya sudah berinteraksi dengan anak Jawa Pos bernama Akcaya yang dipimpin HA Halim Ramli. Belakangan Bg Djunaini KS menjadi Pemred untuk kemudian ke Equator. Berdirinya Equator sebagai koran Crime untuk vis a vis melawan korannya OSO bernama Suaka. Benar Suaka tumbang. Equator bertahan 21 tahun. Namun juga tumbang akibat perubahan pola konsumsi media cetak beralih ke gejet. Koran saya juga tersungkur akibat Miss Management. Namun saya dkk bersyukur punya media online bernama teraju.id yang launching 16/8/16. Alhamdulillah sesuai perkembangan zaman, eksis.

Laporan Nuris dari AS saat menjadi wartawan Equator, 2001

1992 saya ikut PPMI. Bahkan menduduki Presidium Wilayah Kalimantan. Saat itu pelatih kolom Cak Nun. Adalah Erwan Chandra (Gatra) mengajak saya gabung ke Equator tahun 1999. Erwan direkrut langsung Bg Djun ex wartawan Tempo, sahabat CEO Jawa Pos Dahlan Iskan.

Baca Juga:  Gerakan Infak Beras Sentuh 49 Ribu Yatim Penghapal Quran Seluruh Indonesia

Saya sudah kenal Pak Dis lewat tulisan briliannya karena ayah berlangganan Akcaya. Kemudian sebagai aktivis pers kampus saya juga belajar darinya lewat kunjungan ke Jawa Pos via program PPMI.

Sepanjang di Equator karir saya meroket. Sebulan pertama masuk kerja laporan langganan Headline. Karir reporter lompat cepat asisten redaktur, redaktur dan Redpel. Saya tak sempat jadi kepala biro. Untuk keluar daerah mesti jeli cari waktu. Alhamdulillah sampai pula 2x ke USA. Liputan berkesan antara lain meliput Mr Big, pembunuhan sadis Agrefina Maria, hingga ke Istana Wapres Hamzah Haz bersama para ulama Kalbar.

Peristiwa besar yang melambungkan nama Equator sebagai koran Politic,-Crime yang disegani

Equator saat itu koran referensi. Kami bangga menyebutnya kampus pers terkemuka Kalbar.

Ketidak hadiran Equator cq Rakyat Kalbar adalah pelajaran penting dan berharga. Banyak hal yang terus medam di kepala dan dada tak cukup diungkapkan dengan alfabeta…Anyway trims Equator dkk sekerja yang mengajar banyak hal atas idealisme, keberagaman dan kebersamaan. *

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Check Also

Anti Diskriminasi ala Gusdur dan Romo

Oleh Fubertus Ipur Saya mungkn termasuk manusia beruntung bisa belajar soal anti diskriminasi rasial dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

teraju.id