Sebuah gapura menyambut. Selamat datang di Munzalan Mubarakan. Sebuah tower enam lantai terpacak dengan gagah. Banyak unit sekitar mesjid dibeli Munzalan dengan harga Em Eman dan dijadikan Munzalan Radio, Munzalan Mart, Rumah Sehat Munzalan, Baitul Munzalan Indonesia, hingga pondok pesantren yang menampung santriwan dan santriwati.
Sumar berdecak kagum. Frasa kata luar biasa macam tasbih meluncur dari bibirnya.

We are lucky. Very lucky. Kenapa? Di bawah kanopi mesjid kapal ada sosok ulama muda aktor intelektual di balik kemajuan Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin. Siapakah anak muda istimewa yang belum lagi genap 40 tahun umurnya? Almukarram KH Lukmanul Hakim, SE, MM. Kyai kabir melantai. Bersila. Melayani tetamu yang kemarin, Rabu, 24/2/21 menerima komunitas genk motor King Rattle Motorcycle. Kami pun disambut hangat dus ikut nimbrung.
Ustadz Lukman punya ibu dari Sambas. Ayahnya orang Serdam. Bah beh beh dengan fasih. Suasana cepat melebur macam komunikasi orang dapur.
Poin pertama dari Kyai Kabir adalah dakwah tak bisa monopoli seseorang atau lembaga. Harus rame rame dan sama sama. Pasang tengah istilahnya sehingga ngebom peruahan sosialnya efektif dan efisien.
Contoh komunitas motor pas ikut mengantar infak beras dimana touringnya dapat, sholatnya dapat, dakwahnya dapat. Bensinnya keluar dari kocek masing masing. Efektif.
“Ternyata banyak orang ingin masuk surga tapi tak tahu caranya dari mana?” Tugas kami kata Ustadz merangkulnya. Nama Munzalan tidak muncul pun taklah mengapa. Sebab yang dipuji dan dibesarkan hanya Allah.
Azan berkumandang. Kami wudhu. Ustadz Sumar mengaku sangat ngecharge jumpa langsung KH Lukmanul Hakim.
