Singkat cerita, Emak sependapat untuk mengambil beberapa hektar. Saya yang bercita-cita untuk menjadi insinyur pertanian juga suka sekali. Sehingga Bapak memutuskan membeli beberapa hektar. Lebih lanjut kami membangun pondok tani dan dijaga paman. Wahab namanya. Ia kemudian bertetangga dengan Pak Akin.
*
Semasa SMP kelas 2 saya menanam 100 bibit jeruk sambal. Hasil cangkok sendiri.
Pohon induknya ada di depan teras.
Saking suburnya tanah Parompong, setahun tanam saya panen 300 kg buah jeruk sambal. Saya panen bersama Krisworo. Ketua kelas di SMP Mujahidin. Berkarung-karung dibawa ke Pasar Flamboyan. Hasilnya dibelikan buku. Salah satunya buku terjemahan Alquran yang saat itu hanya ada versi Departemen Agama. Niatnya belajar agama. Yakni membaca tafsir…
Seiring dengan itu Bapak memasok ratusan bibit melinjo. Niatnya adalah memproduksi emping. Namun panen rutin adalah singkong yang jika dicabut sebesar paha orang dewasa. Juga pisang selendang. Subur sekali. Tak ayal, kebun kami jadi destinasi famili dari Kota Pontianak.
*
Marto kini sudah menjadi Pak RT. Anaknya dua. Si sulung sudah bekerja. Adiknya SMP.
Enam tahun lamanya pasca Covid saya tak pernah kemari. Namun pohon durian, rambutan, jengkol, kelapa, jeruk masih gagah terpacak.
Bu Asen Kota menyambut kami. Membawa keliling lahan yang dulu rimbun dengan pohon karet, kini berubah sawit. Daerah ini juga kaya Bauksit. Makanya Aneka Tambang masuk juga dengan pembebasan lahan telah mencapai 2000-an hektar.
Konon di sekitaran lahan kami sudah pada dilepas. “Lalu mereka pindah ke mana Nek,” tanya saya kepada Bu Asen Kota. Dijawab, “Di mana-mana mereka punya keluargalah. Ada dekat sini,ada juga pindah daerah.”
