Bagi sebagian besar orang Indonesia, banjir bandang informasi ini mengakibatkan peristiwa ‘gegar budaya’. Karena, mereka ‘dengan tiba-tiba’ menerima informasi yang sangat beragam dalam jumlah yang sangat banyak. Sementara, kemampuan mengelola informasi dalam jumlah besar dan beragam dalam waktu singkat belum dimiliki.

Dampak banjir bandang informasi ini adalah banyak orang cenderung ‘memilih’ informasi-informasi yang kualitasnya masih dapat dipertanyakan. Karena, sifat-sifatnya yang cenderung sensasional. Informasi-informasi semacam itu bagi sebagian besar orang sangat mudah dicerna. Menurut panjangnya, informasi semacam itu sekitar 100 kata. Singkat, sensasional dan artifisial.

Namun demikian, walaupun hanya sekitar seratus kata karena jumlahnya sangat besar, banyak orang memepercayainya bahwa informasi semacam itu sudah lengkap dan dapat dipercaya. Jadilah pengetahuan mereka sebatas pengetahuan seratus kata.

Sampai di kalimat ini, sajian ini sudah 370 kata. Sudah jauh dari rata-rata yang disenangi para pelaku dunia media sosial pada umumnya. Para penerima informasi sudah merasa panjang dan menjadi bosan.

Kita berhadapan pada pilihan, pendek menyenangkan atau panjang membosankan. Pada titik ini, kita mesti bijak memilih informasi, antara yang pendek tetapi superfisial – hanya kulit-kulitnya, atau yang panjang tetapi luas dan mendalam,.

Månggå, ka-oncèkånå
7-3-2019, Pakem Tegal, Yogya
Nuwun