Oleh: Leo Sutrisno
Perang telah usai. Tetapi lihatlah, di tengah kekejaman dan kesedihan itu nampak anak-anak kera dan anak-anak raksasa riang bermain bersama-sama. Sepasang-sepasang anak raksasa mengendong seekor anak kera. Lalu, berlombalah mereka sampai terengah-engah napasnya.
Sorak sorai meledak. Seorang anak raksasa didekap matanya oleh seekor anak kera. Anak raksasa ini terduduk. Dua ekor anak kera merentangkan tangan anak raksasa itu dan dua ekor anak kera yang lain memegangi kakinya. Mereka berempat mengoncang-goncang anak raksasa itu dan kemudian melepaskannya. Anak raksasa jatuh terhuyung-huyung.
Serentak anak-anak raksasa dan anak-anak kera berlari bersembunyi di balik pepohonan. Tawa ria mereka terpingkal-pingkal, tiada henti, menyaksikan kawannya, anak raksasa, yang bingung mencari-cari mereka.
Tertinggal di sana, seorang anak raksasa yang kecil sekali, usianya masih sangat muda. Taringnya belum muncul dan giginya masih tumpul. Ia telanjang bulat dan liurnya menetes terus. Ia merengek-rengek, minta ikut bermain. Dan, datanglah seekor anak kera menghibur dan menciumnya. Dituntunlah anak raksasa itu, pergi menyusul kawan-kawannya.
Anak-anak kera dan anak-anak raksasa ini telah kehilangan ayah-ayah mereka yang gugur dalam peperangan. Tapi, tiada kesedihan pada mereka. Tiada dendam dan permusuhan di antara mereka.
