Dalam dunia akademis, kedua posisi itu, pilihan pribadi dan akademis, termasuk dalam paradigma/aliran anti/non-positivisme. Pilihan berdasarkan pertimbangan pribadi dan akademis, mengandung keberpihakan/tidak netral (un-neutral) dan tidak lagi bebas nilai (value unfree).

Mengapa bukan positivisme (netral dan bebas nilai)? Karena Paslon adalah manusia. Kita tidak pernah bisa netral dan bebas nilai seperti berhadapan dengan barang mati: batu, besi, semen, tanah, pasir dan benda lain tak berjiwa. Penggunaan paradigm positivisme — berkarakter netral dan bebas nilai – tidak mendorong kita menjadi pemilih cerdas: menyia-nyiakan Paslon yang memiliki rekam jejak (track record) jelas, prestasi/hasil kerja nyata dan tidak juga mementingkan masyarakat luas.

Perbedaan dalam non-positivisme antara pilihan pribadi dengan sebagai akademisi adalah bahwa ketidaknetralan (un-neutrality) dalam posisi pertama, lebih berdasar pada pertimbangan keuntungan (profit) pribadi dan kelompok, bersifat material/finansil. Demikian juga, tidak bebas nilai pada pilihan ini, lebih dipengaruhi oleh keputusan atau pertimbangan nilai yang bersifat pribadi yaitu nilai-nilai kepentingan politis dan ekonomis pribadi, keluarga dan kelompok etnis atau partai politik. Pilihan jenis ini lebih bersifat emosional, kesukuan (ethnocentrism), asal usul keturunan dan agama.

Sebaliknya, pemilihan terhadap Paslon tertentu pada posisi kedua, pertimbangan akademis murni, tidak dilandasi oleh kepentingan pribadi atau kelompok sempit. Motif utama pilihan itu adalah untuk kemaslahatan (benefit/usefulness) masyarakat, daerah dan bangsa yang lebih luas. Namun, pilihan ini tetap tidak bebas nilai yaitu lebih berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran, keadilan, persatuan dan kemajuan bangsa.

Berdasarkan pertimbangan di atas, pertanyaan tentang siapa di antara mereka akan menjadi pemenang, dapat dijawab oleh dan pembaca sendiri.