Oleh: Eka Hendry Ar
Akhir-akhir ini penulis merasa serba salah dan nyaris kehabisan akal untuk berwacana. Termasuk untuk membincangkan isu-isu aktual yang terjadi di ruang publik. Alasannya pertama, terus terang ada “rasa takut”, kalau-kalau salah (atau keseleo kata) sehingga ada delik untuk dipidanakan. Kedua, “Kesulitan” menentukan sikap, seperti simalakama. Barangkali juga kurang pas kalau dibilang kesulitan, karena lebih dikarenakan stigma apriori terhadap situasi yang terjadi. Dimana para pihak dengan mudah menuduh kalau kita berpendapat A, berarti pro kelompok ini. Sebaliknya, berendapat B, dituduh pro kelompok itu. Sehingga ada teman yang berujar, “Aku speechless dengan kondisi hari ini.
Memang idealnya, bisa saja kita mengabaikan imej demikian. Seperti pepatah “anjing mengonggong, kafilah berlalu”. Namun karena kita hidup dalam ruang yang sama, menjadi inteligensia atau cendikia, yang benar-benar berjarak dari kepentingan pragmatis terasa sulit. Sehingga kita mulai merasa risih dengan atmosfir yang “pengap” ini. Seolah-olah kita tersandera dan sekaligus terdakwa oleh penilaian publik yang riuh rendah dengan “polusi” hujat menghujat.
Semuanya sibuk bersuara, menyederhanakan kompleksitas pikiran dan idealisme, seakan hanya dalam demarkasi standar episteme-nya masing-masing.
