in

Rekor dan Warisan Dunia UNESCO Bukanlah yang Utama, Tapi…

pantun warisan budaya tak benda

Luar Biasa. Hati plong. Dada terasa ringan. 14 jam berakhir indah. Inilah pekerjaan besar teraju.id yang ketiga di masa pandemi. Setelah live 12 jam Sultan Hamid, konser virtual band legend Arwana, dan kini rekor berpantun bertajuk Serumpun Berpantun.

Saya tidak ingin membahas soal rekor. Karena bagi saya, di era digital ini, sangat mudah memverifikasi sebuah pencapaian. Jejak digital dapat ditracking. Jadi, pencapaian kegiatan berpantun-ria dari jam 8 pagi hingga 10 malam itu sendiri sudah berbicara secara tak langsung. Youtube telah membantu mencatatnya.

Yang lebih penting, saya ingin berbicara bahwa kita bisa, ya kita bisa melakukan apa saja, bila kita bersama. Kolaborasi, alih-alih kompetisi.

Berkait dengan event yang kita helat, EO manapun bisa mengkalkulasi berapa biaya penyelenggaran event semalam suntuk yang kami adakan. Berderet-deret digit bisa keluar. Namun percayakah anda, kami bisa menyelenggarakan dengan biaya tak sampai separuhnya.

Rahasianya? Kolaborasi. Itulah kekuatan kita: kolaborasi. Gotong royong kata para leluhur.

Kain katun dijadikan kebaya
Kebaya dibeli dari mempawah
Jadikan pantun simbol budaya
Puak melayu terangkat marwah

Alhamdulillah itu terjadi di tengah pandemi. Hal yang hampir mustahil terjadi dalam situasi normal. Jujur, rata-rata yang terlibat adalah para profesional di bidangnya. Artis sohor, MC papan atas, selebgram, hingga musisi legend asal Kalbar. Selain honor yang selangit, tentu booking waktu yang tidak bisa mendadak. Dengan budget terbatas dan persiapan event yang tidak sampai sebulan, agak tipis kemungkinan acara-acara besar itu bisa terlaksana dalam situasi normal.

Baca Juga:  Menkes Budi Gunadi Buka Vaksinasi Lintas Agama di UMP -- Terbuka hingga 17 Juli untuk 2.000 Peserta

Saya ingin mengatakan, bahwa corona itu faktor luar, kreatifitas di dalam diri jangan mati. Melebihi itu semua, kekuatan bangsa yang telah ditanamkan oleh pendahulu kita: kolaborasi dan kerja keras-ikhlas-tuntas, jangan ditinggalkan. Kekuatan ini telah hilang di tengah perbincangan kita sebagai bangsa. Kita lebih asik mengolok, menjatuhkan bahkan memenjarakan saudara se-tanah dan se-air. Suasana kebatinan bangsa menjadi keruh. Kita perlu revolusi narasi mengangkat nilai-nilai luhur bangsa. Butuh sekali. Mendesak.

Pantun merupakan tool komunikasi paling relevan di era post-truth ini. Di tengah polarisasi anak negeri. Pantun bisa menjadi alat komunikasi sosial dengan nilai-nilai adiluhung. Dengan pantun, kita bisa berkolaborasi, alih-alih kompetisi. Mencari solusi, alih-alih selisih. Bersama mengayuh biduk negeri keluar dari jerat corona dan resesi.

Bunga kasturi mekar merekah
Hadiah sang pemberi karunia
Same-same kite satukan langkah
Agar pantun makin mendunia

Subuh tadi, WA grup bertalu-talu memberitakan kabar ditetapkannya Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh Unesco. Meski sangat bersyukur, saya kira pantun lebih besar dari penghargaan tersebut. Kini, pantun menjadi pembawa pesan universal bagi dunia.

Baca Juga:  Diar Andiani dan Hidup-Mati untuk AFS--A Beautiful Soul--Catatan In Memoriam

Semoga…

Written by Yaser Ace

propertipreneur | digitalpreneur | kulinerian

Eka Hendry Ar.

Speechless

bnpt fkpt

Peserta Rakornas FKPT Kunjungi Museum Rudana