Opini

Rekor dan Warisan Dunia UNESCO Bukanlah yang Utama, Tapi…

Rekor dan Warisan Dunia UNESCO Bukanlah yang Utama, Tapi…

Luar Biasa. Hati plong. Dada terasa ringan. 14 jam berakhir indah. Inilah pekerjaan besar teraju.id yang ketiga di masa pandemi. Setelah live 12 jam Sultan Hamid, konser virtual band legend Arwana, dan kini rekor berpantun bertajuk Serumpun Berpantun.

Saya tidak ingin membahas soal rekor. Karena bagi saya, di era digital ini, sangat mudah memverifikasi sebuah pencapaian. Jejak digital dapat ditracking. Jadi, pencapaian kegiatan berpantun-ria dari jam 8 pagi hingga 10 malam itu sendiri sudah berbicara secara tak langsung. Youtube telah membantu mencatatnya.

Yang lebih penting, saya ingin berbicara bahwa kita bisa, ya kita bisa melakukan apa saja, bila kita bersama. Kolaborasi, alih-alih kompetisi.

Berkait dengan event yang kita helat, EO manapun bisa mengkalkulasi berapa biaya penyelenggaran event semalam suntuk yang kami adakan. Berderet-deret digit bisa keluar. Namun percayakah anda, kami bisa menyelenggarakan dengan biaya tak sampai separuhnya.

Rahasianya? Kolaborasi. Itulah kekuatan kita: kolaborasi. Gotong royong kata para leluhur.

Kain katun dijadikan kebaya
Kebaya dibeli dari mempawah
Jadikan pantun simbol budaya
Puak melayu terangkat marwah