Opini

Terminal Terakhir

Terminal Terakhir

“Jangan khawatir, Ibu akan baik-baik saja. Carilah ilmu setinggi-tingginya. Agar kelak dapat berguna bagi orang banyak!” Kata ibu

Itu merupakan titik awal perjalanan hidupku. Berkat doa kedua orang tua serta adik-adik, dan tentu saja bantuan para orang baik lagi dermawan, studiku lancar hingga lulus sebagai dokter umum.

Lepas menjalani PTT dan ditambah dua tahun atas kemauan sendiri, aku dipanggil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Atas biaya Pemda aku diminta mengikuti program dokter spesialis paru. Memang, di kepualauan sana masih banyak penderita TBC dan sejenisnya.

Aku kembali ke kehidupan kampus seperti dulu. Tetap naik sepeda. Menyewa kamar sederhana. Tiap Sabtu sore pulang ke desa. Bercengkerama dengan ibu di dapur. Tidur sebalai dengan adik-adik di malam Minggu. Pergi melihat sawah di Minggu pagi menemani bapak mengontrol pematang dari lobang yuyu. Dan, Minggu sore kembali ke kota. Tas ransel yang tergantung di boncengan berisi beras dan sayur yang selalu disiapkan ibu.

Awal Desember tahun lalu, aku kembali ke daerah. Untuk sementara, aku dititipkan di RSUD sebelum dikirim ke kabupaten.
“Selamat datang, dok!. Semoga kerasan di sini walau tidak banyak pasien TB” Kata teman sejawat menyambutku.