Opini

Terminal Terakhir

Terminal Terakhir

Saat ini sudah pukul tiga subuh. Bapak dan Ibu, serta kedua adikku juga sudah meninggalkan tempat ini. Tiada kesedihan di wajah mereka.

Sebelum meninggalkan tempat ini, kudengar bapak berkata kepada ibu dan adik-adik. Dan, mungkin juga kepadaku.

“Hidup kita di Bumi ini merupakan bagian dari perjalanan panjang penjiarahan kita masing-masing. Karena kehendak-Nya, kita berlima dipertemukan di tempat ini di masa ini. Yang oleh masyakarat disebut keluarga. Aku sebagai bapak, ini sebagai ibu, dan kalian sebagai anak, juga kakakmu.” Jeda sejenak.

“Sesungguhnya, Lanjutnya, “Kita semua ini sesama teman seperjalanan. Juga kakakmu. Sampai kapan? Kita tidak tahu. Yang Memberi Hidup yang tahu. Kakak sudak dipanggil-Nya. Tinggal kita berempat. Entah kapan akan dipanggil satu per satu. Sesuai dengan waktu yang terbaik menurutNya. Jangan bersedih. Kita mesti bersuka cita. Kakakmu sudah kembali kepangkuanNya. Selamat jalan, Nak! Semoga kita kelak dipertemukan lagi di tempat dan waktu yang berbeda. Selamat jalan anakku. Tetap semangat dan bergembira!”

Kubisikan ke telinga mereka masing-masing, “Terima kasih, Bapak. Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Adik-adik. Aku sungguh sangat berbahagia hidup bersama kalian semua. Saya tunggu di tempat lain kelak pada waktunya”