Saya kembali tercenung. Inna Garuda bintang 4. Saya pilih menginap di situ, karena di lokasi acara. Ira, di Amaris yang bintang 2.
Dan, saya makin tercenung, ingat Dirut saya. Dirut BUMN saya, yang labanya 1/70 laba ASDP, nginap di Hotel Tentrem. Hari itu, tarif Tentrem hampir 5 kali lipat tarif Amaris.
“Acara kita kan seharian. Hotel muk gawe turu,” kata Ira, berbahasa Jawa yang artinya Hotel cuma buat tidur.
Saya, terkesiap. Saat itu.
Meski, ternyata itu bukan kali pertama saya tercenung, lalu terkesiap, dan berdecak. Dengan sikap Ira.
Dan, tentu saja bukan pula yang terakhir.
Karena, beberapa kali bertemu Ira lagi, saya kembali terkesiap, tercenung dan berdecak.
Seperti saat tahun 2023. Saat itu, Maret 2023, ada teman nikahin anaknya. Di Malang. Ira, saya, sama-sama diundang. Juga beberapa teman-teman lain di luar Malang. “Nginep nang omahku wae. Kene ngumpul, crito-crito,” kata Ira. Menginap di rumahku saja. Berkumpul. Cerita-cerita, itu ajakan Ira.
Ira memang punya rumah di Malang. Dia beralasan, biar tidak harus ke hotel kalau sedang ke Malang. Kota kelahirannya. Kota tempat dia kuliah S1, di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB). Salah satu kota favoritnya.
“Meski kecil, senang bisa punya rumah di Malang,” katanya soal rumahnya di Malang itu. Rumah tiga kamar yang memang cukup sederhana dimiliki Ira, yang saat membeli rumah itu –sekitar tahun 2013– adalah Direktur di GAP Inc, perusahaan ritel Amerika.
