Yang datang malah Avanza, mobil teman yang tinggal di Malang. Yang juga mau undangan nikahan itu. Ira pun nyantai ikut mobil Avanza itu. “Ayo berangkat…,” katanya.
Menyadarkan saya yang –lagi-lagi– tercenung, terkesiap, saat itu. Membayangkan dirut saya, yang mencetak laba hanya 1/70 dari Ira, kalau pas di luar kota, pilih-pilih harus naik mobil apa. Teringat juga, beberapa teman Direksi yang bahkan untuk urusan pribadi, tetap pakai mobil kantor yang pasti bukan Avanza.
Saat bercerita kisah tersebut anak-anak saya –saat mereka bersiap masuk dunia kerja–, saya bilang: “Itulah integritas, nDuk.”
***
Saya –beruntung– berteman dengan Ira, sejak lama sekali. Kami satu kelas sejak kelas 1 di SMAN 1 Sidoarjo. Lalu, sekelas lagi, saat kuliah di Fapet UB.
Lulus kuliah, sempat lama tidak terhubung. Baru terhubung lagi, saat saya sudah bekerja di Jawa Pos. Kebetulan suami Ira, mas Zaim Uchrowi, juga orang media. Tempo, Republika, dan sempat menjadi Komisaris Utama Kantor Berita ANTARA. Jadi, pertemanan kami bersambung.
Awalnya saya dan Ira, nyambung ke saya dan Ira-Mas Zaim. Bersambung lagi menjadi pertemanan keluarga, kemudian.
Sebagai teman sejak begitu lama, saya beruntung, punya teman yang jelas integritasnya. Selain tentu saja unggul dan baik pribadinya.
Meski, saat masih sama-sama SMA itu, sejujurnya, saya tidak merasa beruntung! Karena, merasa mendapat saingan, lawan berat! Termasuk, saingan dalam hal organisasi di sekolah.
