Saya pun menurut, sadar diri. Ira masih aktif berbahasa Inggris, ia bekerja di GAP Inc. Saya, saat itu, memimpin koran Jawa Pos di Tulungagung, yang karenanya lebih sering ber-inggah inggih dari pada oh no oh yes.
Tapi, kontak sambung kami tentu bukan hanya soal bahasa. Ira mengingatkan, untuk memikirkan teman-teman kita. Diawali dengan teman-teman sekelas di IPA 5 SMAN 1 Sidoarjo.
Ia menginisiasi reuni, agar tahu teman-teman kita bagaimana. Apakah ada yang perlu dibantu. Atau ada yang sakit, bahkan meninggal. Jadilah, reuni pertama kelas IPA5 setelah sama-sama dalam kondisi sudah berkarier tahun 2008. Ira sponsornya.
Berlanjut ke reuni teman kuliah, Fapet angkatan 1986 pada tahun 2009. Di tengah kesibukan di GAP, Ira datang di Tulungagung, tempat reuni. Ia membawa sekarung celana, kemeja, sweater dan produk GAP. Untuk dilelang, dan hasilnya untuk dana alumni. Disiapkan untuk membantu alumni yang membutuhkan.
Berlanjut lagi ke reuni akbar teman-teman SMA angkatan 1986. Ia menyempatkan hadir dalam rapat persiapan, ikut merancang dan juga menyediakan dana awal yang nilainya besar untuk keperluan reuni.
Dengan langkah sistematis, ia juga merancang rencana agar reuni berlanjut dengan aksi yang bermanfaat bukan saja bagi sesama rekan alumni, tapi juga buat SMA dan Kota Sidoarjo. Ira, Direktur GAP yang langkahnya internasional, tidak segan turun tangan, bersama-sama kita, untuk memikirkan aksi-aksi bagi kepentingan lokal.
Dan itu berlanjut lagi, lagi, lagi dan lagiiiiiiiiiiiiii….mulai dari rutin menambah kas dana alumni, ikut mengunjungi teman atau guru sakit kalau pas dia ada di Indonesia, atau sekadar kumpul-kumpul.
