Sosok dan gaya kepemimpinan Ahok yang demikian, memunculkan dua kubu besar; pendukung dan penantang Ahok. Bagi kelompok pertama, sosok Ahok yang dianggap bersih, dengan gaya kepimpinannya yang tegas menjadi kekuatan untuk pendukungnya. Sebaliknya bagi kelompok kedua, Ahok adalah sosok yang tak mengenal kompromi, gaya kepemimpinan yang terkesan arogan dan sombong menjadi dasar penolakan sikap terhadap Ahok.

Singkatnya, seringkali Ahok dinilai sebagai pribadi yang tidak baik, kasar, tidak beretika dan arogan. Pribadi yang yang sombong, yang tidak mengedepankan adat-adat ketimuran dan kesopanan dalam berkomunikasi. Seorang pemimpin yang sering marah-marah di depan publik, kritis dan sebagainya, layaknya seorang superbody.

Mengapa Ahok selalu menjadi selebritas politik tanah air? Setidaknya ada empat hal yang penting kita pahami.

Pertama, Ahok memang seorang individu yang menganut gaya komunikasi yang unik untuk budaya masyarakat timur seperti Indonesia. Ahok adalah tipe Low Context Culture (LCC), satu budaya komunikasi yang cendrung ceplas ceplos, terbuka, to the point, tegas, lugas, dan tak neko-neko. Orang dengan budaya LCC ini lebih mementingkan pesan dibandingkan proses. Asalkan pesan tersampaikan, tak masalah jika harus menyinggung perasaan. Karena itu, bagi budaya LCC, pesan itu harus disampaikan secara lugas, tegas dan jelas (eksplisit). Dari sisi kebenaran pesan, orang LCC bisa lebih terpercaya dan jujur dalam menyampaikan pesannya.