Kedua, kebanyakan masyarakat timur, terutama Indonesia justru menganut budaya komunikasi sebaliknya, High Context Culture (HCC). Budaya komunikasi HCC lebih mengedepankan kesantunan, kelemah-lembutan, sopan, dengan bahasa yang halus dan tidak menyakitkan perasaan. Dan demi semua itu terkadang harus sedikit menyembunyikan pesan, tidak berterus terang, memerlukan banyak basa basi, bahkan kurang jelas maksudnya. Orang dengan budaya HCC ini lebih mementingkan proses komunikasi yang sejuk, nyaman, menjaga perasaan dibandingkan kejelasan pesan. Artinya, demi menjaga perasaan, orang dari budaya HCC lebih memilih berbohong dibandingkan berterus terang dan menyinggung perasaan. Karena itu, bagi budaya HCC, menjaga perasaan dan etika hubungan jauh lebih penting dari pesan yang disampaikan. Dari sisi proses, orang HCC lebih menghargai perasaan orang lain dalam berkomunikasi.

Ketiga, kedua budaya komunikasi (LCC dan HCC) memang memiliki karakter dan tipe yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Karena itu, antara keduanya cendrung untuk saling bertentangan. Artinya, orang yang datang dari budaya komunikasi yang saling berbeda punya kecendrungan untuk konflik, sebagaimana gaya komunikasi Ahok (yang LCC) dengan kebanyakan masyarakat Indonesia (yang HCC). Namun bagi sebagian yang memiliki kecendrungan budaya komunikasi yang sama (sama-sama LCC atau HCC), justru akan saling mendukung satu sama lain. Dari sinilah kita melihat adanya pendukung Ahok yang memiliki kecendrungan budaya komunikasi yang sama (LCC). Sebaliknya, para penentangnya adalah mereka yang cendrung lebih HCC.