Oleh: Dr Leo Sutrisno
Sudah sebulan aku ‘terdampar’ di sekitar Puskesmas kepulauan yang terluar dan terpencil ini. Dalam peta nasional tak akan tampak. Paling berupa titik-titik sebesar biji kacang hitam yang berserakan di laut Cina Selatan.
Kaki tangga biang lala belum juga muncul, walau pun sudah pukul sembilan. Sebaliknya, justru tumbuh bunga kol raksasa, si cumulonimbus, yang siap menerkam burung-burung baja yang berani mamasuki kedaulatannya. Kakinya kokoh tertancap di lautan Cina selatan. Lidah-lidah petir siap menghanguskan jaringan listrik dalam tubuh burung itu. Demikian pula, serpihan-serpihan kristal es beerkilau keperakan siap membekukan seluruh tubuhnya dan menggulungnya untuk diceburkan di laut bebas.
Tiba-tiba, aku tergoda ingin mengunjungi Nenek Achi. Ia tinggal di hulu sana, di sebuah lanting peninggalan suaminya.
Pada lereng tebing sungai, belakang lanting, jasad almarhum suami di tanam. Makam sangat terawat. Berada di sebuah taman kecil 15×10 m. Sederet bunga krisan melingkari petak makam. Orang percaya bunga ini sebagai lambang kebahagiaan, kesetiaan dan suka cita.
Di depan batu nisan, terdapat kolam kecil dengan tanaman bunga lotus putih. Lotus putih melambangkan kejernihan pikiran dan kemurnian hati. Lotus putih juga mengisyaratkan kesempurnaan spiritual.
