Petak kebun sebelah kiri makam berisi empat galuran tanaman: seledri, bawang putih, bawang merah dan wortel. Suatu waktu A Pho Chi menjelaskan kepadaku,
Ku lihat ke atas. Layar plasma langit membentang, Jejak-jejak ku di sekitar rumah Nenek Chi tertayang di sana.
“Nenek menanam sayur itu, selain untuk dimakan juga mengandung harapan nenek. Seledri untuk Tami. Itu lambang kerajinan. Bawang putih lambang kemampuan hitung cepat buat Rejeki. Bawang merah untuk Tari lambang kecerdasan. Dan, wortel untuk Ranti. Wortel itu lambang nasib baik” Terdiam sejenak. Mata berkaca-kaca. Air mata menetes di pangkuan.
“Nenek sakitkah?” Tanyaku. “Ayo ke dalam. Saya periksa!”
Ia manggeleng. Lama kami berdiam diri.
Kemudian, “Aku inggat dia, Entah dimana dia sekarang. Andai, andai juga ada di sini, Ranti pasti senang. Kalian berdua seperti saudara kembar”. Jeda sejenak.
“Ranti sekolah SMA di kota. Waktu libur akhir tahun, ia pulang. Dokter tahu bulan Desember, musim ombak besar. Ia hilang bersama perahu yang ditumpangi. Setehun kemudian, A Kung meninggal menanggung sesal. Mengijinkan Ranti pulang Natal tidak saat libur Imlek.”
