“Dokter, aku berterima kasih atas usahamu mencarikan ini. Tetapi, aku sudah tua. Biarlah aku melanjutkan sisa hidupku ini dengan satu mata. Untuk silih bagi hidup Ahui, Ranti. Agar dapat nasib yang baik jika masih hidup. Pakailah dana tersebut untuk bantu meningkatkan kesehatan orang lain yang lebih memerlukan!”
“Amin!” Sambutku. Tidak lama kemudian Layar Plasma langit lenyap. Ada seekor burung elang terbang memotong rombongan burung Mliwis yang terbang menuju pebukitan.
Saat ini, aku kembali duduk di lereng bukit bebatuan di bibir sumber air belakang rumah. Menanti semburat merah jingga di batas cakrawala.
Dalam kebeningan air sumber yang keil ini aku melihat bayang-bayang senyum Nenek Chi ke arahku. Sepintas terlihat ada dua batu nisan di belakang lanting dengan tulisan ‘Tuan dan Nyonya Chi Chung Hua’. Galur-galur tanaman sayur berubah menjadi taman bunga Peony, bunga kemakmuran. Tampak di taman itu seekor ayam jantan sedang mematuk-matuk wortel.
Ternyata, dalam hidup di alam fana sana tak lepas dari penderitaan. Di dalam kebahagiaan keluarga Chi yang ketiga anaknya hidup sukses di manca negara, ada Ranti yang hilang di telan alam.
Di dalam kebahagian yang kuterima pun demikian. Sukses hidupku tak dapat dirasakan lama.
