Sambil membawa selembar foto hitam putih, “Ini, si sulung. Nama indon-nya Sri Utami. Sekarang di Singapur. Adiknya, Sri Rejeki di Taiwan. Ini, nomor tiga, si bawang merah, Sri Utari. Ia di Kuching. Semua ikut suami masing-masing. Mereka hidup makmur. Dan, ini Ahui. Lupa! Aku, nama indon-nya. Miripkan dengan kau bukan?!”
“Sri Ranti, Nek!” aku menyela.
“Ya, ya. Kau bisa baca tulisan di foto itu, ya?” Aku mengangguk
“Tiap pagi aku berdoa bagi mereka satu per satu di depan galur-galur sayur itu. Namun, tiap sampai di galur Ahui, Ranti, aku terdiam”
Lanjutnya, “Jika Ahui, Ranti, memang sudah tiada, aku harap agar jiwanya sempat mengarungi empat lautan lebih dahulu. Di barat ada Danau Qinghai. Di timur ada Laut Cina Utara. Di utara ada danau Baikal. Dan, di selatan, di sini, ada Laut Cina Selatan”
“Saya turut berdoa baginya, Nek”. Kataku
“Kedatangan saya ke sini mengabarkan bahwa dana untuk operasi mata sudah didapatkan. Minggu depan kita turun ke kota, ya?!!” Aku diam menunggu jawabannya. Nenek Chi menggeleng.
