teraju.id, Mempawah – Ketika memimpin redaksi Harian Equator sebagai Redaktur Pelaksana seorang sarjana baru balik dari Jogja–anak Mempawah–minta dukungan menggelar Festival Sahur-Sahur buat pertama-kalinya. Ia datang merujuk sukses kegiatan kami di Equator berupa Pontianak Fair, Pameran Produk BUMN hingga Kompetisi Otak Kiri-Otak Kanan.
“The first step is difficult, the next step is easy.” Begitu kata saya membakar semangatnya.
Difficulties itu apa? Tentu dana. Lalu membentuk team yang solid. Itu sukar, sebab Festival Sahur Sahur belum pernah dibuat besar, kecuali tradisi turun temurun, dimana serombongan anak muda remaja dan beberapa menua-nuakan diri bergerak semarak membangunkan orang kampung bersahur. Butuh pengorbanan dan leadership yang kuat. Alhamdulillah kini terbukti Istiqomah 23 tahun.
Tempo Doeloe tak semua warga punya jam. Hari gelap tanpa listrik. Apa saja dipukul. Mulai ember, belanga, kayu, sendok…di sepanjang menit dan detik menjelang imsak mereka berteriak, koor, bernyanyi, “Sahur…Sahuuuur. Sahurrrr, Sahurrrr.”
*
