Keempat, gadis-gadis remaja pun berhamburan selain remaja dan pemuda. Mereka turun dari Pontianak, Singkawang dan kota kota terdekat seperti Pinyuh, Anjungan, Bengkayang, Sambas. Puluhan ribu. “Seratusan ada. Sebab keliling jalan raya kota penuh semua,” ungkap Ce Zuol budayawan pantun yang mendampingi sejak saya tiba hingga kembali pulang.
Kelima, tetamu datang dari berbagai lapisan. Mereka melepas kontigen dengan salawat Nabi. Ada Kakanwil Kemenag Kalbar. Ada Sekda Kalbar. Ada juga Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat Dr Uniawati dan rombongan. Ini sudah berkelas. Jauh berbeda dengan 23 tahun yang lalu.
Keenam, transaksi ekonomi jelas-jelas laris-manis. Salah satunya cafe terdekat lokasi utama tak mampu melayani tumpah ruah pesanan. Es berapapun dipasok, pastinya habissss….
“Miliaran transaksi di acara malam ini. Silekan yak itung. Sejak cafe, warung, sampai UMKM,” timpal Ce Zuol yang juga aparatur Desa Pasir Palembang Mempawah.
Ketujuh, Menpar memasukkan agenda Festival Sahur Sahur sebagai KEN. Karisma Event Nusantara. Artinya kualitas Festival Sahur Sahur memenuhi standar nasional, yakni mempromosikan pluralitas, kemajemukan, keamanan, terpeliharanya tradisi dan budaya hingga membangun keekonomian masyarakat.
