“Nuris ada di Jakarta?” Senyampang orang nomor satu ahli warisan budaya tak benda asal Indonesia dan menjadi mitra terpercaya Unesco ke gawai saya.
“Benar Bunda…”
“Apa pulangnya buru-buru?”
“Iya Bun. Landing hari ini dan besok sore sudah pulang…”
Sosok yang baru saja genap 70 tahun dan diapresiasi para tokoh nasional-internasional berikut Penerbit Obor dengan buku biografi setebal 662 halaman mengatur waktu pertemuan. Tentu saya sangat terharu. Sebab apalah dan siapalah saya yang seperti debu dalam jagad sastra lisan di Indonesia.
Saya baru bergabung di Asosiasi Tradisi Lisan yang Bunda Tety pimpin pada 2020 melalui amanah yang diberikan Ketua ATL Kalbar Prof Dr H Chairil Effendy, MS yang juga Ketua DPP Majelis Adat Budaya Melayu kala mengawal pantun ditetapkan sebagai WBTB Unesco. ATL Pusat sendiri lahir sejak 1993. Setahun kaki menginjak kampus Universitas Tanjungpura jurusan agronomi. Usut punya usut akademik pertanian (agriculture) bertaut erat dengan tradisi lisan yang masuk rumpun kultural. Salah satunya mantra, syair, pantun, tradisi budaya berkenaan dengan lingkungan. Sebutlah Robo-Robo, Naik Tojang, Tudang Sipulung, Naik Dango, bahkan Bubur Padeh….
*
