Community

Rezeki Jangan Ditolak

Rezeki Jangan Ditolak

Oleh: Tuti Alawiyah

Azan Maghrib sudah berkumandang. Belajar malam di Mahad akan segera diumumkan setelah Isya nanti.

“Kepala kame pusing Des,” eluhku pada Desty yang sedang membuka laptop.

“Baringlah, nanti ana bangunkan ente,” ucapnya.

Beberapa menit aku terlelap, namun tanpa sadar aku terbangun dengan sendirinya. Ketika itu suara azan Isya tengah berkumandang. Suara muazin di masjid juga disauti oleh derasan air hujan dan hembusan angin malam.

Tidak seperti biasanya, malam itu, hawa angin dingin tidak membuat kami kedinginan. Masih sama seperti tadi sore. Tetap berkeringat dan kepanasan.

“Hidupkanlah kipas angin ente,” pinta Desty malam itu.

“Matikan dulu Des, sesak rasenye,” balasku karena tak bisa memakai kipas angin terlalu lama sekalipun sedang kepanasan.

“Assalamualaikum, ade botol ndak?” tanya Nisa tiba-tiba muncul. Tanpa dipersilahkan masuk sudah mencari-cari botol di kamarku. Dilihatnya di bawah kolong tempat tidur bekas botolnya kemarin.

“Tak deh,” jawabnya sendiri lalu lekas pergi.

“Belum nggak ngomong, ade bah botol di dapok,” ucapku sendiri.

“Bilanglah ente,” sahut Desty.

“Oh, mau ngambil air die tuh,” kataku membatin.