Community

Rezeki Jangan Ditolak

Rezeki Jangan Ditolak

“Sehe .. mereka tuh nadah air, tapi memang sih air keran lagi mati. Terlebih lagi air galon anak Mahad sudah pada kehabisan,” ucapku membatin.

Melihat mereka, Desty pun meminta botol kosongku. Kami juga ikut mengantri. Tapi malangnya mereka yang menadah air tak kelar-kelar juga. Terlihat air hujan yang tadinya deras kini semakin berkurang derasnya. Kukira sebentar lagi akan mereda. Kebetulan di depan samping kamarku saja yang bisa ditadah. Hanya tempat satu-satunya.

“Nah, ngantrilah ente, ana nak facebookkan lok,” bilang Desty sembari mengembalikan dua botol kosong berukuran besar padaku.

Aku kembali memperhatikan mereka. Sepertinya ini tak kunjung usai sampai segala tempat sebagai wadah air mereka itu penuh. Maklum sepertinya sampai besok pagi air keran takkan hidup. Mereka mungkin berinisiatif untuk pakai mandi besok pagi.

“Eh, Nanda isikanlah?” mintaku sedikit memohon padanya karena ia paling berkuasa sejak tadi menadah air hujan.
Nanda memberi.

“Alhamdulillah,” syukurku membatin setelah menerima air di dua botolku ini.

“Yeh biselah untuk cuci muke same mandi nih Des,” cetusku ke Desty.

“Hah … Tut, Tut,” balasnya. Karena airnya tak mungkin cukup untuk pakai mandi.