Saat itu keadaan Mahad sedang mengalami musibah kecil. Kami kehabisan air untuk mandi. Sudah sejak pagi air keran mati. Tidak ada inisiatif dari kami untuk menadah air. Padahal, pengalaman semacam ini sudah beberapa kali terjadi.
“Tak deh aek,”kata Zakia meringis, tadi sore.
“Aek untuk mandi ke atau aek untuk minum?” tanyaku saat baru tiba di asrama.
“Dua-duanye”.
“Alah mak, aek ye belum hidup jua”.
Beberapa saat kemudian, suara keriuhan dan tumpahan air terdengar dan Desty pun berjalan membuka pintu. Terlihat di depan kamarku beberapa teman sebaya sedang menjinjing ember berisikan gayung, galon kosong dan ada juga yang membawa botol kosong.
“Ehm .. pastilah tuh lagi nak nadah aek,” ucapku membatin.
Begitulah jika hari hujan. Apalagi air keran mati. Semakin menambah kekuatan anak Mahad untuk sehe menadah air. Meskipun harus menadahnya menggunakan gayung sedikit demi sedikit lalu memasukkannya lagi ke dalam ember yang di atasnya ada kain sebagai penyaring. Setelah penuh ember berisikan air hujan itu dimasukkan lagi ke dalam galon.
Aku pun bergegas menuju pintu dan menongolkan kepalaku sedikit mengintip keluar melihat suasana keributan mengantri air hujan.
