Mereka berdua berpelukan erat. Cornelis yang PDIP dan merah itu berpelukan dengan Fahri yang PKS dan muslim. Mereka berada di pijakan yang sama tentang bangsa ini. Pijakan bernama amanat penderitaan rakyat. Mereka juga berfoto berdua. Fahri bilang, semua curhat Cornelis akan menjadi catatan untuk diperjuangkan. Alumni KAMMI Kalbar yang menjemput juga meminta foto bersama. Gubernur membuka pintu dan persilahkan Fahri berkumpul bersama anak-anak muda Kalbar. Anak-anak muda perlu dinyalakan bara semangatnya.
Rombongan tak langsung ke hotel. Perjalanan dilanjutkan ke Aula Rumah Dinas Wakil Walikota. Fahri Hamzah akan dijamu terlebih dahulu oleh Wakil Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono. Dalam sambutan sederhana tersebut, kami dihidangkan makanan khas Kalbar. Ada Mie Sagu yang enaknya tak disangka-sangka. Juga Ikan Tenggiri Asam Pedas khas Pontianak. Asamnya berasal dari tomat yang melimpah. Rasanya segar. Badan yang lelah akan terasa enak kalau kita menyeruput air kuahnya.
Di Aula Rumah Dinas Wakil Walikota tersebut, bergantian Fahri Hamzah dan Wawali memberi sambutan dan bertukar cinderamata. Mata saya bersitumbuk pada gambar foto raksasa yang menjadi latar utama. Sebuah foto situasi Pontianak pada tahun 1971. Jalan Agus Salim yang masih asri dengan banyak sepeda yang lalu lalang. Di kiri jalan masih ada sungai yang masih alami. Jalan Agus Salim adalah jalan protokol yang menghubungkan tiga cabang sungai dengan kota. Pembangunan dan kemajuan telah merubah itu semua.
