teraju.id, Yogyakarta— Di Masjid Kampus UGM, Jusuf Kalla (JK) berdiri bukan sekadar sebagai mantan Wakil Presiden, melainkan sebagai juru damai yang kenyang makan asam garam konflik, 5 Maret 2026. Dalam ceramahnya yang bertajuk strategi diplomasi Indonesia dalam memitigasi potensi eskalasi perang multipolar, JK melontarkan tesis yang menggetarkan: “Perdamaian adalah akhir dari sebuah konflik, namun ketidakadilan adalah sumbu utama yang bisa menghanguskannya kembali.” Ia mencatat, dari 15 konflik besar di Indonesia, sembilan di antaranya dipicu oleh rasa tidak adil yang menyayat hati rakyat.
Dengan gaya yang lugas, JK menyoroti betapa teknologi kini telah meredefinisi wajah peperangan. “Bukan lagi soal jumlah batalion, tapi soal siapa yang menguasai roket dan drone,” ujarnya. Di hadapan para jamaah masjid, JK mengingatkan bahwa Indonesia memiliki mandat konstitusi untuk ikut serta dalam ketertiban dunia. Namun, ia juga memberi catatan tebal: kemakmuran dan kedamaian tak akan tegak jika ekonomi domestik masih rapuh dan semangat entrepreneurship jalan di tempat.
