Nada peringatan JK itu seolah bersambut dengan kecemasan yang diutarakan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden ke-6 RI itu, dalam analisis geopolitik terbarunya, tak ragu menyebut bahwa dunia sedang berjalan di atas lapisan es tipis menuju “Perang Dunia Ketiga.” SBY melihat pola-pola prahara global saat ini kian mirip dengan situasi menjelang tahun 1914 dan 1939. Di matanya, PBB kini tampak seperti macan kertas yang tak berdaya menghadapi syahwat perang para pemimpin dunia yang haus kuasa.
Kegelisahan para “begawan” politik ini rupanya ditangkap dengan sigap oleh Presiden Prabowo Subianto. Selasa malam, 3 Maret 2026, Istana Merdeka menjadi saksi sebuah pertemuan langka. Prabowo mengumpulkan para pendahulunya—Jokowi, SBY, hingga JK—dalam sebuah jamuan makan malam yang kental dengan nuansa konsultatif. Di meja makan itulah, ego politik ditanggalkan demi satu kepentingan besar: menjaga bahtera Indonesia agar tak karam dihantam gelombang eskalasi di Teluk dan Timur Tengah.
Dalam diskusi yang berlangsung hampir empat jam tersebut, SBY menitipkan pesan khusus yang cukup krusial bagi stabilitas nasional. Ia mendesak pemerintah untuk memperkuat ketahanan “tiga pilar”: fiskal, energi, dan pangan. Di tengah ketidakpastian global yang bisa membuat harga minyak dan gandum melambung dalam semalam, Indonesia harus memastikan perut rakyat tetap kenyang dan kantong negara tidak jebol.
