Oleh: Yusriadi
“Bang, dokter kulit di Pontianak siapa ya?”
Pertanyaan Dr. Ismail Ruslan menyeruak di antara deru motor dan perhatian saya pada jalan di depan. Pertanyaan itu tak sempat dijawab.
“Sejak Pak Buchary tidak ada, tak tahu saya. Bang Yus, tahu?”
Peneliti sekaligus dosen IAIN Pontianak melanjut tanya.
Saya tak segera menjawab karena penuaan, lambat mencerna dan lainnya. Maklum, saat itu, tepatnya, sore di bulan Oktober, saya sedang mengendara motor dan fokus melihat jalan di depan yang sangat parah. Jika tak hati-hati bisa menabrak bongkahan semen, batu, atau terperosok lubang.
Lantas, saya menyebut nama dokter kulit seorang perempuan. Saya pernah membawa Mbah dan anak saya ke tempat praktik beliau.
“Siapa mau berobat?” saya balik bertanya.
“Saya. Pantat lecet dah ni. Ha ha…Besok mau berobat lok”.
Saya ikut tertawa. Rupanya, doktor di belakang saya bercanda.
Tentu saya dapat memaklumi. Jalan yang kami tempuh berlubang dan bergelombang. Aspal terkelupas. Semen retak. Ban kendaraan yang melindasnya setiap saat membuatnya tak berumur. Jangankan yang duduk di belakang, saya yang di depan juga merasa jerih.
Jadi, jika Bang Ismail bercanda soal “penderitaannya” melintas jalan yang kami lewati hari itu, saya paham. Tapi, kami –hari itu, tidak punya pilihan, harus melintasi jalan ini.
