Oleh: Dedi Ari Asfar
Pada 23 Oktober – 10 Nopember 2020 digelar Festival Nadi khaTULIStiwa. Banyak event dihelat di dalam memaknai hari jadi Kota Pontianak sekaligus hari kesaktian Pancasila, lahirnya TNI, Sumpah Pemuda, hingga Hari Pahlawan secara daring (dalam jaringan) atau secara online. Ada serangkaian kegiatan webinar (web seminar) klasifikasi regional dan internasional. Juga event musik-sastra-budaya.
Khusus untuk budaya pantun, melalui Festival Nadi khaTULIStiwa ini ditujukan pula untuk memecahkan rekor, sehingga tercatat sebagai warisan budaya dunia takbenda di badan budaya dunia Unesco. Unesco benaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut pakar perbandingan bahasa-bahasa Polinesia-Austronesia Brandstetter, kata “Pantun” berasal dari akar kata tun yang terdapat juga dalam bahasa-bahasa di Nusantara, misalnya bahasa Pampanga tuntun, yang bererti teratur; dalam bahasa Tagalog tonton, mengucapkan sesuatu dengan susunan yang tertentu; dalam bahasa Jawa Kuno tuntun berarti benang, atuntun, teratur, dan matuntun, bererti memimpin.
Dalam bahasa Bisaya, panton bermakna mendidik; bahasa Toba, pantun adalah kesopanan atau kehormatan. Ringkasnya akar kata tun dalam bahasa-bahasa Nusantara merujuk pada sesuatu yang teratur, yang lurus, baik secara konkret atau abstrak.
