Ada juga stand pembagian kopi gratis di pinggiran kiri jalan masuk, tepi sawah. Kopi itu juga yang dibawa ke area sawah yang sudah dibuat tempat duduk dan meja terbuat dari batang kelapa. ‘kopi sawah’ begitu judul kornernya. Beberapa anak muda yang tergabung dalam gerakan tanam padi (Genpi) ini masih memenuhi panggung. Mereka nampak bangga jadi bagian kegiatan ini.
Saya merasa kegiatan ini jadi kejutan listrik bagi anak-anak muda yang sudah hampir terlena dengan dunia gadget dan tidak mengenal padang rumput, ladang, apatah lagi sawah berlumpur. Mereka sudah terlanjur nyaman menikmati nasi putih terhidang di meja.
Ingatan saya berbalik pada Kecamatan Kubu. Sepanjang menuju Kubu, sering saya lihat masyarakat royong tanam padi keliling. Bahkan beberapa teman kantor mengaku, pagi sekali sebelum kerja sudah turun ke ladang atau sawah membantu menebas lahan atau nugal untuk tanam padi.
Di Desa Persiapan Bemban Timur Gapoktan bersama petani juga menginisiasi program Gatam. Di Desa Teluk Nangka, Olak-Olak, Sungai Terus mereka juga masih aktif bertanam padi setahun 2 kali. Pengakuan aparat desa Olak-Olak petani kebingungan untuk memasarkan hasil panen mereka.
