(Sejarah Hartunas-2)
teraju.id, Pontianak – Inspirasi kata seniman. Ilham kata para guru atau ustadz. Begitulah, perhelatan dailylife pantun dari Kalbar menyokong Asosiasi Tradisi Lisan Pusat memperjuangkan pantun sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Unesco melahirkan kohesi sosial Serumpun Berpantun. Lahir pula Salam Serumpun Berpantun dari Tuan Guru Agus Muare Rahman.
Tokoh pantun Kalbar yang memiliki ketertarikan erat kepada sastra lisan pantun sejak remaja menyilangkan induk dan telunjuk tangan kiri dan kanan. Tiga jari mengembang kiri-kanan secara seimbang.
Menurutnya, dua lingkaran itu pertanda silang sempurna dan kata berkait di dalam sampiran dan isi pada bait-bait pantun. Jari-jari yang mengembang laksana kepak sayap burung menandakan keseimbangan. Seimbang antara metafora dan pesan. Seimbang dalam sastra lisan yang terbang tinggi membahana. Dalam simbol itu termaktup pesan: bawalah sastra lisan pantun ini terbang tinggi…
Salam Serumpun Berpantun kemudian didesain Tuan Guru Untung Dwiyani ke dalam bentuk emoticon. Desain ini disaving ke android dan mudah dibagi-bagi kemana saja lewat gawai.

Desain emoticon itu kemudian disempurnakan lagi dengan bentuk tangan sebenarnya. Di bawahnya ditulis lengkap Silang Sempurna, Kata Berkait, Serumpun Berpantun. Lantas kedua emoticon ini kerap menghiasi gawai komunitas perpantunan lokal, nasional, dan internasional.

Masya Allah, senang jadi bagian sejarah