teraju.id, Pontianak— Aksi Solidaritas Warga Pontianak Peduli SDN 01 yang menyegel Hotel Neo lantaran tidak mempunyai lahan parkir dan “mengorbankan” kepentingan sekolah yang berada di sebelahnya sebagaimana diberitakan, Senin, 1/5/17, disikapi Ketua Himpunan Pengusaha Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam, Ato Ismail, ST. Menurutnya, polemik yang terjadi mesti dipandang secara utuh sekaligus solutif.
Pertama, bahwa sebagai pengusaha, Ato berharap tindakan penyegelan Hotel Neo tidak berdampak buruk bagi citra Kota Pontianak sebagai kota jasa. “Kalau citra segel-menyegel ini negatif akan berdampak buruk bagi masuknya investasi di daerah kita. Hal ini akan merugikan perputaran keuangan sekaligus lapangan kerja,” kata Ato, yang juga alumni Fakultas Teknik, Untan.
“Bayangkan jika aksi segel-menyegel ini menjadi tabiat. Investor pasti akan takut,” ungkap Ato. Padahal Kota Pontianak punya prestasi terhadap kecepatan pelayanan perizinan dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Kota Pontianak juga dikenal sebagai kota yang berintegritas.
Kedua, Ato menyikapi rencana Pemkot membangun gedung parkir di halaman SDN 01 sebagai sah-sah saja. Ia merujuk lahan Polda Kalbar yang diruislag dengan Matahari Mall. Juga perumahan tentara menjadi Pontianak Mall. “Kita tidak boleh alergi dengan pemanfaatan lahan secara produktif. Karena pada tubuh pemerintah melekat tugas mensejahterakan masyarakat melalui terbukanya lapangan kerja.”

Dulu SMP N 8 juga mendapat perlakuan yang sama, dipindahkan dari Jl. Dr. Setiabudi ke ujung Parit Haji Husin II. Kebetulan saye merupakan alumni SMP N 8 di Paris 2. 😀