“Akibat wabah penyakit ini, harga sawit dan getah turun karena tidak ada yang mau beli. Pemasukan tidak ada tapi pengeluaran terus mengalir,” keluh Serli, salah seorang mahasiswi IKIP PGRI Pontianak yang orang tuanya bekerja sebagai petani.
Mahasiswi lain, Annisa ikut menambahkan “Udah pendapatan berkurang tapi masih punya kewajiban bayar uang semester, belum lagi kuota internet untuk kuliah daring yang kalau dihitung-hitung lebih mahal daripada uang bensin untuk ngampus.”
Dikeluarkannya Surat Edaran sebagai tanggapan keluhan mahasiswa terkait biaya kuota internet, Nurul, salah seorang mahasiswa mengaku senang dan merasa bahwa kampus lebih peduli terhadap mahasiswanya.
“Dengan datangnya surat ini dari kampus itu menandakan bahwa rektor peduli dan tidak mengabaikan mahasiswanya,” ia melanjutkan, “lebih baik lagi kalau kampus bekerjasama dengan provider agar kami tidak lagi kesulitan tentang kuota sehingga bisa focus mengerjakan tugas.” (uci)
