Saya tentu tak sopan terus di dalam. Berhamburan keluar. Juga Jibi dan Revan.
Rupanya pria muda berselisih satu dasawarsa dengan saya mengambil hampers. “Ini untuk Tok Yes,” ungkapnya seraya cipika-cipiki dan berujar saling mendoakan ya…subhanallah betapa indah perangainya.

Sesampai di rumah saya buka dengan sukacita. Isinya kemeja putih lengan panjang. “Saya dagang…” Suara Ustadz Lukman orang nomor satu di mesjid ramah pemuda, anak dan perempuan serta fisabilillah di dada begitu lantang. Baju kemeja yang saya pakai khutbah Jumat ketika ada kesempatan buah tangan Ayahman.

Ini hampers bukannya yang pertama. Jauh lebih awal, pria muda yang kini baru 40-an tahun mengaku just now landed from Japan. Di Negeri Sakura ia meresmikan gerai produk halal Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan networking.

Digamitnya saya seusai kedapatan salat di Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin itu ke toko dan gerai produk halal bernama Munzalan Mart. Apa-apa saja dijemput. Botol. Kotak. Sambil dijelaskan satu persatu in gredient maupun manfaatnya. Sampai produk herbal yang penuh khasiat. Sampai madu yang berkhasiat obat serta dikonsumsi berasa lezat.

Meteor Dakwah Bumi Khatulistiwa.2

Betapa air mata tidak tumpah. Sebegitu baiknya anak muda yang lebih suka disapa Ayahman karena bersimbolisasi pelindung keluarga. Padahal sempat beliau akrab disapa To’ Aji karena sahabatnya HM Nur Hasan akrab disapa To’ Ya.

“To’ Ya sudah punya cucu. Saye biar disapa Ayahman. Asal kate Ayah dan Man. Man manusia. Man Lukman.”

Jadi di Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin ada Dato’ dan ada Ayah. Dua figur penting dalam traktat adat bersendikan syarak, dan syarak bersendikan kitabullah wasunnatur Rasulillah.