Asharlah kami di Mesjid Kapal Munzalan Serdam sesuai pertemuan di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah serta Majelis Adat Budaya Melayu (DPP MABM Kalimantan Barat).

Saya merasa cukup lama tak mampir ke Munzalan. Karpetnya baru. Tebal. Mirip gambaran Kakbah. Keemasan di bagian atas.

Sebaliknya Ibu Dwi sudah merasa lelah. Sejak kemarin tiba di Bumi Khatulistiwa jadwalnya padat. Sempit waktu buat istirahat bagi nenek dua cucu yang berkhidmat lumut di Departemen Keuangan RI ini.

Ia berpesan ke ajudan agar jumpa Ustadz sekejab saja. Tubuh kurang sehat. Hendak fokus rehat agar seminar Green Waqf di Rektorat Universitas Tanjungpura pas lagi Jumat sukses dan sehat.

Rasional sekali prioritasnya. Namun ternyata bukannya singkat. Baru kali ini saya bawa tamu bersua Ayahman bubarannya setelah lima jam. Nyaris 6 jam!
Alhamdulillah Bu Dwi Hadiningdyah sehat. Segar. Makin bugar. Jam 21.15 baru bubar sejak Ashar.
Masya Allah Kun fayakun itu nyata.

*

Betapa tidak. Saya meleleh air mata. Tak sanggup berkata-kata.
Tanah yang dulunya ada Durian Kenauk tempat saya dan To’ Ya bermain masa kecil tahun 1980-an kini berubah kota besar.

Dulu era kanak-kanak rajin menelusuri kebat dedaunan Langsat tua bak karpet menuju Kenauk yang dua pelukan orang dewasa masih hidup di Tembang Angan.
Si raja duri itu pulen. Uenak tenan. “Keci’ bigi’ tebal isi’.” Abangku menyela di awal pertemuan pada ruang pimpinan.

Harum. Manis. Berlemak. Perfecto.

Di saat leleh air mata menatap gemerlap lampu Munzalan Tower 5 lantai menjulang Serdam, hidung mengendus bau si Raja Buah yang gugur dari Kenauk.