Saya berdehem. Jauuuuh. Jauh sudah perjalanan Ruhani anak muda Serdam satu ini.
Unik. Kami sekampung Sungai Raya Dalam (Serdam) memang. Dimana ayah sama ayah berteman. Kakek sama kakek bersahabat, tapi baru kali ini macam kumpul keluarga. Bicara dari hati ke hati. Syarat pesan.
Lagi lagi Ayahman membagi hampers. Isinya macam macam makanan. Lezat lezat.
Super duper istimewanya saat salaman pamit pulang, anak saya Jibi dan ponakan Revan kecipratan uang cash. Saya pun disawerin. Rrrrrrruar biasah. Warrr biasah. Sebab biasanya kita yang jabanin Kyai, ini malah Kyai yang bersedekah. Suri teladan yang menampar alam sadar dan bawah sadar saya selaku jurnalis yang berusaha menulis dakwah.
Mana sedekahmu. Mana amal solehmu? Mana akhlak muliamu?
*
Terkini saat Harpandu dan Hartunas di Pendopo Gubernur. Tetiba beliau nongol di jeda acara pembukaan bersama Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan. Tak ayal Ayahman diburu media. Diwawancarai. Dan buru-buru terbang lagi ke 500-an mesjid Munzalan di 32 Provinsi Indonesia. Supervisi.
“Oh ada Ayahman?”
“To’ Yes yang undang, ape yang tadak bise.”
Saya terus terang. Ini pasti ada misi khusus. Apa gerangan?
Ini rahasianya: ‘Saye dakwah dari mesjid ke mesjid. Jamaahnya orang yang memang mau takwa, ibadah dan taubat. Tapi To’ Yes dakwah di ladang terbuka. Heterogen. Bahasa saya To’ Yes dakwah di zona ketiga.”
Zona 1 Masajidallah. Zona 2 para da’i bilateral sosial. Zona 3 wilayah plural.
Saat itu tak hanya insan pers yang merudu Ayahman. Tapi juga Konsul Malaysia di Kota Pontianak. Encik Azizul Zekri. “Ustadz Lukman nih idola saya.” Klik. Potret bersama….
