Momentum lain terindah ketika saya minta beliau baca doa di hari seminar nasional perlunya Indonesia memiliki Hari Pantun Nasional. Saya pikir doa adalah saripati ibadah. Harus dipilih orang yang ketika memimpin doa, maka pintu-pintu langit terbuka. Oleh Allah diijabah. Dikabulkan segenap permintaan.
Ndilalah, sosok yang digamit dengan schedule amit-amit mengiyakan. “Insya Allah bisa To’ Yes. Untuk To’ Yes apa yang ndak bise…” Masya Allah saya mengurut dada. Betapa lembut budi perangai. Padahal schedule beliau saya tahu more than Presiden RI. Apalagi menteri. Lewaaaaat.
Benar. Doa di Ruang Sidang Rektorat Universitas Tanjungpura tahun 2023 itu makbul.
Kini Indonesia memiliki Hari Pantun Nasional sesuai SK Menbud Dr Fadli Zon tertanggal 7 Juli 2025. SK No 167 yang very-very special. Bahkan ada bonus: Deklarasi Hari Pantun Dunia sebagai penggandeng letupan hasrat memajukan pantun ke level internasional sebab sudah WBTB Unesco 17 Desember 2020.
Hari Pantun Nasional di Riau. Hari Pantun Dunia di Rumah Budaya Kampung Caping, Kota Pontianak. Arasy wakaf HM Arif yang nyaris seabad. Tercatat.
*
Saya memang kategori suka mengganggu Ayahman yang supersibuk. Saya minta almukarram menjadi narasumber bersama Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah Dr Taufik Hidayat. Kali ini di Balai Petitih Kantor Gubernur. Dan beliau menyanggupi.
“Untuk To’ Yes ape yang tak bise…”
Saya trenyuh. Sebegitu baiknya Al Ustadz Lukmanul Hakim Bin Husni. Memang teruji dan terbukti turunan Husni. Hasan. Baik. Sangat baik…
Nama kedua ayah kami sama. Ayahman Husni. Saya dan To’ Ya Hasan.
“Tapi di jadwal bersamaan saya monitoring dari perjalanan menuju Jogja.”
