Berita

Namanya Olivia

Namanya Olivia

Dia mengajakku untuk menulis setelah lebih dari satu bulan berdansa dalam ketidakpastian dan malam penuh tanya dengan kalimat sederhana: “Buat buku, yuk.”

Di bawah kolong langit sore dan pasir putih yang menggelitik kaki; tanpa persiapan apa – apa, tanpa karangan bunga seharga ratusan ribu, tanpa kata – kata hiperbolis nan puitis yang biasanya aku tulis tentangnya di laman media sosial. Kalimat itu keluar seringan permen kapas yang dulu sering dibelikan oleh orang tuaku di pasar malam.

Aku menoleh bingung ke arahnya. “Kamu sakit?”

Olivia tetap memandang lurus ke depan, memperhatikan ombak yang mencumbu satu sama lain sementara pulpen yang tadi terjepit di antara jemarinya pindah ke antara telinganya.

Teman-temanku selalu was-was dan tidak setuju aku menjalin hubungan dengan Olivia. Mereka bilang dia tidak cocok denganku, dengan Light stick BTS yang selalu dibawanya ke mana-mana, dan kebiasaan berkumpul bersama teman temannya yang berkewarganegaraan asing.

Mereka bilang dia bukan perempuan baik – baik, dia bukan perempuan yang seharusnya menjalin cerita denganku, tapi tahu apa mereka soal Olivia di saat mereka sendiri saja tidak mau tahu lebih dalam tentangnya?