in

Namanya Olivia

Lambung : Lembaran Cerita Bersambung, ke-1

WhatsApp Image 2020 08 01 at 19.15.14

Dia mengajakku untuk menulis setelah lebih dari satu bulan berdansa dalam ketidakpastian dan malam penuh tanya dengan kalimat sederhana: “Buat buku, yuk.”

Di bawah kolong langit sore dan pasir putih yang menggelitik kaki; tanpa persiapan apa – apa, tanpa karangan bunga seharga ratusan ribu, tanpa kata – kata hiperbolis nan puitis yang biasanya aku tulis tentangnya di laman media sosial. Kalimat itu keluar seringan permen kapas yang dulu sering dibelikan oleh orang tuaku di pasar malam.

Aku menoleh bingung ke arahnya. “Kamu sakit?”

Olivia tetap memandang lurus ke depan, memperhatikan ombak yang mencumbu satu sama lain sementara pulpen yang tadi terjepit di antara jemarinya pindah ke antara telinganya.

Teman-temanku selalu was-was dan tidak setuju aku menjalin hubungan dengan Olivia. Mereka bilang dia tidak cocok denganku, dengan Light stick BTS yang selalu dibawanya ke mana-mana, dan kebiasaan berkumpul bersama teman temannya yang berkewarganegaraan asing.

Mereka bilang dia bukan perempuan baik – baik, dia bukan perempuan yang seharusnya menjalin cerita denganku, tapi tahu apa mereka soal Olivia di saat mereka sendiri saja tidak mau tahu lebih dalam tentangnya?

Mereka tidak ada saat salah satu senior sedang meratapi skripsi yang penuh coretan—’sedang apes’ kalau kata orang-orang yang mengetahui sifat dari dosen pembimbingnya, mengingat matahari sudah hampir mencapai puncak dan masa tenggang revisi semakin dekat—Olivia tanpa basa-basi ikut menolong senior itu. Setelah semua kertas itu berjatuhan dan telah diambil kembali, ia merogoh sebuah buku dari tasnya.

“Ini, Kak, saya ada buku PUEBI,” katanya, dengan senyum setengah khas miliknya. “Tidak usah dikembalikan, Kak, bukunya.”

Senior itu kelimpungan, menawarkan uang yang ada di dompetnya.

Kembali dengan senyum yang kini mencapai kedua matanya, dia berucap lagi, “Tidak apa – apa, Kak. Buat saya yang penting bukunya dipakai.”

Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Debur ombak membuyarkan lamunanku, mengingat Olivia yang asli sedang berada di sebelahku. Duduk di kap mobil dan dengan sabar menanti jawabanku atas pertanyaannya. Pertanyaan yang mungkin kebanyakan orang anggap hanya main – main saja dan tidak serius.

Mereka tidak kenal Olivia.

Dengan senyum, aku menaruh tangan kananku di atas tangan kanannya.

“Boleh,” jawabku. “Habis ini kita mau makan di mana?”

Olivia membalas dengan mengeratkan genggaman tangannya, dan dengan senyum lain yang hampir tumpah dari bibir dan wajahnya.

Written by Rike Rahayu

Rike Rahayu is a volunteer, a student, and a writer. A Volunteer of AFS Indonesia, Bina Antarbudaya chapter Pontianak, and Kampoeng English Poernama. She was studying at Trilogi University in Jakarta and currently at Pontianak State Polytechnic.

She was writing 3 books, and shortlisted for Journalism Fellowship to Malaysia and Singapore in 2018. She has contributed to KEP's Literature Project. She lives in Pontianak.

wajidi

Takbiran di Hari-Hari Tasyriq dan Maknanya

WhatsApp Image 2020 08 02 at 05.42.47

Cornelis: Covid-19 Berdampak Bagi Anggaran Pendidikan Universitas Tanjungpura