teraju.id, Jakarta – Perempuan dan anak selalu menjadi korban bilamana terjadi konflik kekerasan maupun terorisme di seluruh penjuru dunia. Untuk itu sudut pandang korban, yakni perempuan dan anak perlu diperhatikan untuk diselamatkan serta menyelamatkan. Begitupula perempuan dan anak mesti kuat dan berdaya dalam melawan konflik kekerasan maupun terorisme yang telah memaparkan korban harta maupun nyawa.
“Kita tidak bisa berdiri sendiri melawan konflik kekerasan maupun terorisme. Kita harus bersatu dan menjalin harmonisasi dalam kehidupan,” ungkap Dr Sabine Machl, Representative and Liaison to ASEAN United Nation for Women dalam kata sambutannya membuka Konsultasi Publik dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme (RAN-PE) yang mengarah kepada kekerasan-terorisme di Hotel Mandarin, Jakarta, 30/1/18 pagi sekira pukul 10.00.
Sabine merujuk para aktivis perempuan di berbagai wilayah konflik di Indonesia yang telah berbuat banyak demi mewujudkan tatanan daerah sehingga kembali harmonis dan damai. “UN Women berharap adanya masukan dan saran sehingga kita dapat mewujudkan rencana aksi nasional sehingga berdampak tidak hanya di Indonesia, namun juga pada kawasan regional dan internasional,” urainya seraya berharap inisiasi seperti yang dilakukan Indonesia dicontoh negara-negara lain di lingkungan PBB.
