Nasional

Yenni Wahid: Sikap Pro Demokrasi Muslim Indonesia Modal Sosial Melawan Intoleransi

Yenni Wahid: Sikap Pro Demokrasi Muslim Indonesia Modal Sosial Melawan Intoleransi
Yenni Wahid saat memberikan pandangan hasil penelitian The Wahid Foundation. Foto Nuris
Yenni Wahid foto bersama dengan peserta konsultasi publik terkait Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstrimisme (RAN-PE) yang mengarah kepada terorisme . Foto Nuris
Yenni Wahid foto bersama dengan peserta konsultasi publik terkait Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstrimisme (RAN-PE) yang mengarah kepada terorisme . Foto Nuris

Toleransi itu adalah apakah tersedia ruang bagi mereka untuk mengekspresikan pikiran dan pendapatnya? Yenni mencontohkan bahwa Negeri Paman Sam mempunyai kelompok yang paling tidak disukainya, yakni Yahudi. Ini contoh bahwa di setiap negara punya kelompok yang tidak disukai. Begitupula dengan Australia. Mereka tidak menyukai China karena dinilai telah menginvasi tanah serta properti mereka. Politisi kemudian menjadikannya isu politis.

Bagaimana potensi intoleransi terhadap kelompok yang tidak disukai di Indonesia? Laki-laki cenderung intoleran dibandingkan perempuan. Yakni masing-masing 59% dan 55%. Sebaliknya, dalam hal bertetangga masih toleran. Bahkan bertetangga dengan mantan napi pun Indonesia masih toleran.

Data lainnya mengungkap bahwa anti ormas radikal masih 51% laki-laki dan 54% perempuan. Sementara itu 13,2% setuju jihad kekerasan, selebihnya tidak setuju jihad kekerasan. “Warga muslim Indonesia itu cenderung memilih di tengah-tengah,” tegas Yenni seraya menimpali dalam hal bunga bank, ucapan hari raya, jilbab, berduaan, membaca quran untuk pegawai pemerintah, bahwa pendapat umat Islam Indonesia itu di tengah-tengah. Antara konseptual dan praktik ada kesenjangan: contoh secara konseptual dia tidak setuju bunga bank, tetapi secara praktik dia menabung di bank konvensional.